Pembangunan Komoditas Perkebunan Mengalami Peningkatan

aa | Jum'at, 09 November 2018 , 16:54:00 WIB

Swadayaonline.com - Pembangunan komoditas perkebunan selama tahun 2014 - 2018 mengalami prestasi yang cukup bagus, hal tersebut terlihat dari peningkatan PDB naik 28, 5.7% sampai 9%. "Peningkatan ekspor selama empat tahun tumbuh 6.33% atau 1.513,9 trilyun selama 2014 - 2017. Sampai periode 2018 terdapat 312.98 trilyun dengan kondisi harga menurun karena ekonomi global Indonesia, perkebunan masih mamou mengangkat ekspor walaupun beberapa komoditi mengalami penurunan", ujar Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian, Ir. Bambang saat memaparkan capaian kinerja komoditas perkebunan di Jakarta. (9/11/2018)

"Saat ini Ditjen Perkebunan sedang meningkatkan produktifitas dan mutu, misalnya produksi sawit menjadi10-13 ton, kakao 5 ton serta peningkatan komoditas lainnya. Semoga kegiatan ini didukung oleh seluruh instansi terkait dan Pemda, guna meningkatkan devisa dan kesejahteraan petani. Untuk areal produksi perkebunan, Ditjen Perkebunan saat ini lebih kepada peningkatan dan optimalisasi dari luas yang sudah terbangun, namun akan meningkatkan produksinya mengalami peningkatan", ungkap Bambang.

Untuk mengangkat perkebunan dan transparansi melalui data satu pintu, saat ini sudah terbangun melalui sistem informasi perkebunan (sisbun) yang datanya terjamin faliditasnya. Selain itu juga ada Siperibun (sistem perijinan perkebunan) yang datanya di input langsung dari pelaku usaha yang ter up-date setiap waktu. Sipnergi (sistem informasi neraca gula Indonesia) merupakan data untuk sagu dan gula. Dengan data yang valid tersebut, dapat dijadikan sebagai pengambilan kebijakan komoditas perkebunan. Melalui BBPPTP, dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat tentang penanganan benih dan proteksi tanaman ada "sahabat setia petani" (siani) di Surabaya, sedangkan di Medan ada pesona seribu serta sistem informasi OPT perkebunan di Maluku

Dalam membangun kemandirian benih, pemerintah telah memberikan kesempatan kepada daerah untuk melakukan penanaman guna mencukupi ketersediaan benih. "Jadi bukan hanya penangkar benih dan Pemda saja, pngusaha perkebunan bisa ikut partisipasi dalam penyediaan benih. Mengenai inovasi teknologi perbenihan terus dilakukan untuk menciptakan benih yang bersertifikasi", tambahnya.

Bambang mengatakan, setelah dilakukan pengembangan perbenihan, Ditjen Perkebunan akan membina pengusaha yang sudah melakukan perbenihan. Bagi yang tata kelolanya biasa saja, maka akan ditingkat menjadi lebih bagus agar produksi benihnya mampu mencukupi. Saat ini terdapat desa mandiri benih di 32 provinsi di 37 kabupaten di 58 desa dengan 8 komoditas dengan benih siap salur sebanyak 1.012.300 batang atau 2.645 hektar. SY