Petani Ubi Jalar Purwakarta Mulai Terapkan Teknologi Feromon Balitbangtan

aa | Senin, 26 November 2018 , 16:43:00 WIB

Swadayaonline.com - Hama boleng atau lanas merupakan salah satu masalah yang dialami petani ubi jalar di Indonesia, termasuk petani di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Untuk itu Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) melalui BB Biogen mengenalkan alat perangkap feromon seks bernama Fero-Lanas.

Pengenalan Fero-Lanas dilakukan dalam sebuah kegiatan temu lapang yang digelar BB Biogen di Desa Wanasari, Kecamatan Wanayasa, Purwakarta.

Dalam kegiatan tersebut, diketahui bahwa para petani belum pernah mengendalikan lanas meski dampak hama tersebut telah dirasakan dan menyebabkan petani rugi.

“Sebetulnya lanas di sini tidak pernah dikendalikan. Kalau pun disemprot biasanya itu hanya untuk ulat. Tapi untuk lanasnya sendiri, justru kadang-kadang petani tidak tahu lanas itu seperti apa,” ujar Mulyana Hadi Permana, salah satu petani dari Desa Wanasari.

Mulyana bercerita, sejak Fero-Lanas diterapkan, ia menjadi tahu bahwa sebaran lanas di daerahnya cukup luas. Bahkan ia mengaku kaget saat mengetahui banyak lanas yang berhasil masuk dalam perangkap feromon yang dipasang. Mulyana pun optimis produksi ubi jalar di daerahnya dapat meningkat setelah penggunaan Fero-Lanas.

“Walaupun pemasangan feromon ini terlambat dan belum memengaruhi hasil, tapi periode berikutnya pasti akan menurunkan serangan. Sebab, hama yang ditangkap benar-benar ada, beda sama semprot yang kita nggak tau hamanya mati apa enggak,” ungkap Mulyana.

Menurut Peneliti BB Biogen, Dr. I Made Samudra, Fero-Lanas tidak bersifat racun sehingga aman digunakan dan ramah lingkungan. Saat pengendali hama ini diterapkan di daerah Kuningan Jawa Barat yang merupakan pusat ubi jalar, Fero-Lanas mampu menurunkan hama sebesar hingga 40 persen dalam dua kali penggunaan.

“Kalau kita lihat habitat ubi tanamannya kan susah dikendalikan dengan insektisida, maka dengan ini kita akan menarik serangga-serangga jantan untuk diperangkap dan dibunuh, Sehingga sedikit serangga betina yang terkawini dan populasi berikutnya akan menurun,” tutur I Made.

Jika dibandingkan dengan daerah lain, produksi ubi jalar di Purwakarta hanya berkisar 10 sampai 15 ton per hektar. Jumlah tersebut lebih rendah dari produksi normal yang bisa mencapai 30 ton lebih.

Menurut petani, rendahnya produktivitas tersebut disebabkan oleh sistem budidaya yang belum maksimal serta tingginya serangan hama lanas. Untuk itu petani berharap agar teknologi Balitbangtan ini mampu meningkatkan produksi ubi jalar di daerah Purwakarta dan sekitarnya. SY/HMSL