Dirjen Perkebunan Ajak Anak Muda Membangun Perkebunan

aa | Sabtu, 08 Desember 2018 , 18:39:00 WIB

Swadayaonline.com - Jawa Barat merupakan penghasil teh dan kopi yang hebat disamping komoditas perkebunan lainnya. "Kami akan teruskan tentang program kopi dan komoditas perkebunan lainnya, karena kami ingin Jabar menjadi juara lahir bathin komoditas perkebunan", ungkap Wakil Gubernur Jawa Barat, Uu Ruzhanul Ulum saat membuka Hari Perkebunan Ke-61 di Gedung Sate, Bandung. (8/12/2018).

Dalam rangak meningkatkan kesejahteraan, Jabar akan mengembangkan satu desa satu perusahaan satu pondok pesantren yang didalamnya ada pemanfaatan perkebunan. "Bila ada tanah kosong atau lahan tidur, kami akan programkan perusahaan masuk di dalamnya untuk mengembangkan perkebunan begitupun di pondok pesantren. Pemprov akan melakukan inovasi perkebunan dari hulu sampai hilir, bagaimana budidaya dan setelah panen bisa dimanfaatkan oleh santri di Pondok Pesantren", ujar Uu.

Pemrov Jabar juga akan memotong distibusi supaya masyarakat dapat menikmati hasil perkebunan yang murah, sementara petani mendapat untung banyak. Dengan inovasi tersebut, masyarakat akan semakin peduli dan meningkatkan ekonomi lewat perkebunan. "Kami sampaikan, di Jabar sedang mengidentifikasi lahan yang tidak bermanfaat, lahan yang tidur, dan lahan perkebunan yang habis masa HGU nya untuk dimanfaatkan masyarakat dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat", tegasnya.

Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Ir. Bambang dalam sambutannya mengucapkan banyak terima kasih kepada seluruh komunitas masyarakat perkebunan Indonesia karena telah mengantarkan Indonesia telah memberi kontribusi yang besar terhadap PDB mengungguli pendapatan migas. "Komoditas perkebunan berkontribusi sebesar 34% atau senilai 471,31 triliun rupiah dan angka ini lebih besar dari kontribusi Minyak dan Gas terhadap PDB Nasional yang hanya sebesar 390,48 triliun rupiah pada tahun 2017. Bahkan sampai dengan triwulan II tahun 2018, kontribusi perkebunan kepada PDB mengungguli pendapatan migas", tegas Bambang.

Dalam kondisi masih saat ini, menurut Bambang masih sangat besar potensi perkebunan Indonesia untuk kita angkat yaitu melalui dukungan anak muda. "Di Hari Perkebunan ini ayo kita menyemangati anak muda untuk bangkit dan sadar, bahwa dari perkebunan kita bisa mengangkat perekonomian dan kesejahteraan bangsa Indonesia", tambahnya.

Capaian ekspor perkebunan tahun 2018 sampai September sebanyak Rp. 313 trilyun naik 26,5%. Saat ini pemerintah sedang bergerak serius mengangkat komoditas perkebunan, tetapi harus diiringi dengan kesadaran dari masyarakat karena saat ini pergerakannya masih belum maksimal padahal kita punya inovasi teknologi yang bisa meningkatkan produkainya sampai 3 kali lipat. "Disaat pemerintah serius mengembangkannya, tapi kalau disatu pihak menganggap perkebunan itu tidak penting, maka akan sulit bagi kita untuk membangunnya", ucap Bambang.

Ketua panitia Hari Perkebunan Ke-61, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Ditjen Perkebunan Kementan, Dedi Junaedi mengatakan tema yang diangkat kali ini “Sinergi dan Akselerasi Kejayaan Perkebunan", merupakan hasil kerjasama Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian dengan Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat.

Acara tersebut menghadirkan produk - produk unggulan perkebunan daerah, alat dan mesin pertanian, hasil riset dan teknologi. Terdapat 103 booth dengan jumlah 95 peserta yang terdiri dari 33 SKPD provinsi yang membidangi perkebunan, Kementerian Pertanian, asosiasi, dewan komoditas, perusahaan swasta, yayasan dan pemangku kepentingan terkait perkebunan lainnya.

Selain itu juga diadakan workshop Dewan Komoditi Perkebunan yang membahas isu strategis terkini pembangunan perkebunan. Kegiatan Workshop diisi oleh Gabungan Perusahaan Perkebunan Indonesia, Dewan Kelapa Indonesia, Dewan Kakao Indonesia, Dewan Teh Indonesia, Dewan Rempah Indonesia, Dewan Karet, Dewan Kopi Indonesia dan Dewan Atsiri Indonesia dengan menghadirkan narasumber dari Kementerian/Lembaga terkait, Dewan Komoditas Perkebunan Indonesia, praktisi perkebunan dan pemangku kepentingan terkait. SY