Petani Muda Milenial Bersertifikat Kompetensi

aa | Selasa, 08 Januari 2019 , 18:01:00 WIB

Swadayaonline.com - Perdagangan dunia yang tidak mengenal batas negara dan batas kontinen atau yang dikenal borderless memosisikan pengaruh negara semakin diminimalisir. Penjual dan pembeli dapat melakukan transasksi tanpa harus berjumpa memanfaatkan era digital yang makin murah dan terbuka. Para pihak, penjual dan pembeli dapat menentukan term mutu, volume dan time delivery sementara penjual dapat menyampaikan kondisi barang, harga dan syarat serta mekanisme pengiriman barang dan pembayaran. Situasi ini akan mendorong para pihak melakukan upaya untuk memperoleh mutu dan harga serta term pembayaran dan pengiriman barang yang menguntungkan kedua belah pihak.

Peran pemerintah dalam transaksi ini sangat terbatas. Dominasi penjual dan pembeli ini mendorong pemerintah menyiapkan generasi milenial untuk memenangkan kompetisi global yang sangat ketat, keras bahkan kejam. Manusia yang kompetitiflah yang keluar sebagai pemenangnya, Dalam rangka menyiapkan generasi yang unggul, maka pemuda harus memosisikan diri menjadi agen perubahan, maka pemerintah melakukan program sertifikasi kompetensi bagi petani dan generasi muda milenial. Sertifikasi memungkinkan produk dapat ditingkatkan kualitas, nilai tambah, sehingga memungkinkan penetrasi pasarnya makin luas dan dapat diberikan apresiasi harga yang lebih baik.

Era persaingan global ini sertifikasi sering kali digunakan sebagai prasyarat bagi pembeli komoditas pertanian sebagai bagian dari assurance atas kualitas produk ditinjau dari sisi budidaya, panen, pasca panen dan pengolahan hasil. Program sertifikasi ini meungkinkan generasi muda mempunyai profesi sebagai modal dalam mengembangkan kariernya. Sertifikasi juga merupakan salah satu bukti kompetensi atas kemampuan petani dalam melakukan budidaya sampai pengolahan hasil. Sertifikan International Sertificate of Palm Oil untuk kelapa sawit , sertifikat organik untuk beras, sertifikat organik untuk kopi, kedelai dan masih banyak lagi.

Kompetansi dalam sertifikasi ini juga membuka peluang petani dan generasi milenial untuk memutuskan masa depan profesinya yang terhormat. Bukan sebagai buruh atau tenaga kerja kasar. Melalui program petani milenial Kementerian pertanian mendorong generasi muda bangkit dari tidurnya untuk meneruskan cita-cita pembangunan pertanian. Petani milenial generasi muda harus mampu berfikir kreatif, inovatif dan mampu memiliki daya saing agar mampu berdiri dan berjaya di negerinya sendiri, hal ini sejalan dengan kebijakan pemerintah bahwa tahun 2019 adalah tahunnya SDM. Petani milenial juga harus mampu memiliki kompetensi agar mampu untuk menunjukkan keahlian dan kemampuan yang dimiliki.

Menurut Bustanul, Kepala Pusat Pelatihan Pertanian, tahun ini Kementerian Pertanian akan menumbuh kembangkan satu juta petani milenial dari seluruh Indonesia. Harapannya akan lahir petani-petani masa depan yang kompeten. Selain petani milenial program lainnya yang akan dikembangkan adalah program sertifikasi kompetensi, dimana saat ini telah tersedia 98 skema sertifikasi bidang keahlian di sektor pertanian. Untuk itu akan dilakukan pelatihan sertifikasi dalam jumlah besar untuk tenaga profesi bidang pertanian dari berbagai sektor bidang pertanian, khususnya siswa, mahasiswa, dosen dan tenaga pertanian lainnya. "Kurang lebih 15.000 orang tenaga pertanian akan disertifikati pada tahun 2019 melalui kerjasama dengan BNSP" ujar Bustanul. ​SY/CHA