Mencetak Petani Milenial melalui Program Magang di Jepang

aa | Kamis, 10 Januari 2019 , 08:19:00 WIB

Swadayaonline.com - Sesuai cita-cita Kementerian Pertanian untuk menjadikan Indonesia sebagai Lumbung Pangan Dunia tahun 2045, maka dukungan ketersediaan lahan, ketersediaan sumber air, alat dan mesin mesin pertanian, benih unggul serta SDM yang kompeten merupakan suatu keniscayaan. Menurut Kepala Pusat Pelatihan Pertanian, Bustanul, makin berkurangnya jumlah petani akibat usia yang semakin lanjut dan beralihnya minat generasi muda termasuk petani muda untuk menggeluti sektor pertanian harus diimbangi dengan upaya pemerintah untuk lebih mensosialisasikan dan mengajak pemuda di perdesaan dan perkotaan untuk tertarik dan terlibat secara aktif dan masif dalam sektor pertanian

Saat ini Kementerian Pertanian melalui program Petani Muda Milenial berupaya untuk menumbuhkembangkan petani muda Indonesia dengan target 1 juta orang. Petani muda/calon petani muda milenial tentunya harus dibekali dengan kemampuan teknis, kemampuan menggunakan teknologi informasi (IT) dan jiwa wirausaha sehingga dapat menjadi pengusaha pengusaha baru di sektor pertanian. Kegiatan nyata yang telah dilakukan antara lain melalui kegiatan pendidikan vokasi bidang pertanian baik tingkat mengengah maupun tinggi, Agri Training Camp (ATC), pelatihan teknis dan kewirausahaan, inkubasi agribisnis dan permagangan bagi petani/calon petani muda.

Di samping kegiatan diatas, ujar Bustanul, salah satu terobosan baru yang akan ditingkatkan kuantitasnya yaitu pengiriman Petani Muda Indonesia untuk mengikuti Program Permagangan di Jepang yang bertujuan untuk meningkatkan kompetensi teknis pertanian modern dari Petani Jepang bagi petani muda milenial Indonesia. Keterbukaan yang dicanangkan Pemerintah Jepang mengenai tenaga-tenaga asing yang diberi kelonggaran mengisi sektor-sektor ekonomi produktif termasuk pertanian merupakan salah satu kesempatan yang harus digunakan sebaik-baiknya. Kepala Bidang Program dan Kerjasama Pusat Pelatihan Pertanian, Dewi Darmayanti menyampaikan, jika ditelusuri lebih jauh mengenai program ini, sudah banyak kiprah alumni program yang menjadi figur berpengaruh di tingkat nasional maupun daerah. Kontribusi yang diakui sehingga dipercaya menjadi Ketua KTNA, pengelola korporasi petani, dan ketua gabungan kelompok tani di masing-masing daerahnya menjadi indikasi keberhasilan program yang sudah berjalan selama lebih dari tiga dekade.

Saat ini banyak alumni secara pribadi masing-masing yang menjadi mitra Kementerian Pertanian, Dinas Pertanian baik provinsi atau kabupaten dalam meningkatkan produktifitas pertanian. Pemerintah yang secara rutin mengirimkan sejumlah empat puluh hingga lima puluh orang pertahun berencana meningkatkan pengiriman menjadi sekitar seratus orang per tahun petani muda yang mempunyai kemampuan teknis yang cukup dan jiwa wirausaha serta kepemimpinan yang tinggi dengan membuka kemungkinan-kemungkinan mitra kerjasama baru yang bersedia menjadi tempat kaum muda pertanian belajar agribisnis. Pada tahun 2019 ini akan diberangkatkan 44 petani muda milenial untuk belajar menjadi pengusaha agribisnis dengan hidup bersama keluarga baru mereka di Jepang yang tersebar di banyak prefektur seperti Fukuoka, Hiroshima, Aichi, Saitama, Gunma, dan Niigata.

Petani muda dengan rentang usia 20-27 tahun dapat mengikuti program ini setelah dinyatakan lulus seleksi teknis dan administratif serta mengikuti pre-departure training. Program ini dirancang selama 8-36 bulan dan diharapkan dapat meningkatkan hubungan people to people terutama di bidang agribisnis. SY/CTY