Puslatan dan P4S Berprestasi Nasional Aceh Hasilkan Petani Milenial

aa | Kamis, 10 Januari 2019 , 15:57:00 WIB

Swadayaonline.com - Sebanyak 15 peternak sapi dari Gampong (Kampung) Paloh Naleueng, Kecamatan Titeuen, Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh, dilatih di Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) Langgang Jaya Pratama. Di Langgang Jaya Pratama yang berada di Kota Baro, Kabupaten Aceh Besar, Aceh, mereka mengadakan pelatihan pembuatan pakan ternak dari limbah pertanian.

P4S binaan Balai Pelatihan Pertanian Jambi, BPPSDMP Kementerian Pertanian ini salah satu P4S berprestasi tahun 2018 yang mendapat penghargaan dari Menteri Pertanian. Selama ini peternak sapi di Titeuen melakukan peternakan secara tradisional dengan melepas sapi yang dimiliki ke ladang, pekarangan, atau di padang. Akibatnya beternak dengan cara yang demikian membuat produksi mereka tidak maksimal dan tak produktif serta rawan pencurian. Hal demikian merupakan masalah yang serius dialami dan belum bisa ditangani oleh Pemerintah Kabupaten Pidie.

Untuk lebih mengoptimalkan dan mengefisienkan cara berternak sapi, perangkat Gampong Paloh Naleueng melakukan musyawarah untuk mencari solusi bagaimana cara memelihara sapi yang lebih maju, dengan tidak melepas sapi yang dimiliki secara liar, melalui pemanfaatan potensi yang ada di sekitar mereka yang dirasa melimpah. Untuk itulah perangkat gampong mengusulkan melakukan pelatihan ke Langgang Jaya Pratama, yang memiliki teknologi lebih maju dibanding petani lainnya.

Pelatihan ini diharapkan mampu mengangkat potensi peternakan yang ada guna memberdayakan perekonomian masyarakat di tengah susahnya membeli pakan ternak. Salah satu peternak yang ikut pelatihan Zaenal Abidin, mengakui sebenarnya di wilayahnya banyak limbah pertanian, jerami, namun karena tidak tahu teknologi dan tata cara mengolahnya maka limbah pertanian yang ada seolah hanya menjadi sesuatu yang tak berguna. Kedatangan peternak itu disambut dengan baik oleh Ketua Langgang Jaya Pratama, Muhibudin.

Selama di tempat itu mereka diberi pengetahuan tata cara pengolahan jerami menjadi pakan ternak sapi. Menurut Muhibudin dengan menjadikan jerami sebagai pakan ternak, hal demikian bisa mengatasi kesulitan peternak untuk membeli pakan selain untuk mencegah melepas liarkan sapi yang dimiliki untuk mencari makan. “Guna mengantisipasi yang demikian peternak bisa memanfaatkan jerami untuk pakan”, ujarnya.

Lebih lanjut dikatakan, dengan mengolah jerami menjadi pakan sapi hal demikian bisa menggerakan roda kehidupan masyarakat. “Saya harap ilmu yang didapat di Langgang Jaya Pratama kelak ditularkan kepada peternak yang lain”, tuturnya. Camat Titeuen, M. Jakfar, yang mendampingi peternak , mengungkapkan, pelatihan yang dilakukan Gampong Paloh Naleueng merupakan gelombang pertama dari 13 gampong yang akan melakukan hal serupa. Diakui di 13 gampong di wilayahnya, mayoritas penduduknya adalah peternak sapi. Untuk itu mereka akan dibina dalam hal tata cara beternak yang benar dimulai dari pembuatan pakan ternak dari limbah pertanian. “Ilmu yang didapat kita harapkan ditularkan dan diadopsi oleh masyarakat yang lain”, ungkapnya.

Dari pelatihan yang dilakukan diharapkan mampu mengubah perilaku peternak dari cara tradisional menjadi modern sehingga dapat mengutungkan dan menambah pendapatan warga. Untuk itu bagaimana mengubah perilaku peternak, pemerintah daerah selain memberi sosialisasi kepada peternak, lewat mendatangkan penyuluh dari Banda Aceh, juga mengajak mereka untuk berkunjung ke Langgang Jaya Pratama. Pelatihan tsb diakui Zaenal Abidin sangat bermanfaat. Diungkapkan dirinya menjadi mengerti tata cara mengolah jerami menjadi pakan sapi. “Ternyata caranya sangat mudah dan murah”, ucapnya bergembira.

“Dulu tidak tahu sekarang tahu”, tambahnya. Apa yang dikatakan Zaenal Abidin juga diungkapkan oleh peternak yang lain, Sulaeman Husein. Menurutnya dengan datang ke Langgang Jaya Pratama, dirinya bisa melihat cara sukses beternak sapi. “Saya sangat senang ke sini”, tuturnya. Keberhasilan dalam pendamping tentu membahagiakan Muhibudin. Untuk itu dirinya bertekad akan terus mendampingi peternak secara berkala hingga mereka benar-benar mampu mandiri mengola jerami menjadi pakan ternak. “Dengan demikian bisa menambah pendapatan keluarga dari hasil beternak”, ujarnya berharap. SY/HSDM