DTT BBPP Ketindan: Pengendalian Hama Penyakit Kelapa Sikka NTT

aa | Jum'at, 17 November 2017 , 20:44:00 WIB

Swadayaonline.com - Tanaman kelapa varietas Dalam merupakan salah satu andalan komoditas Desa Tilang Kecamatan Nita kaboupaten Sikka Nusa Tenggara Timur. Pohonnya yang tinggi menjulang dengan untaian daun yang menjuntai biasa kita jumpai di Desa Tilang dan Desa Bloro Kecamatan Nita Kabupaten Sikka NTT. Kelapa Dalam Sikka mempunyai warna kulit buah hijau kekuningan dengan daging buah berwarna putih.  

Tanaman kelapa varietas Dalam (Cocos nucifera L)  di Desa Nita dibudidayakan pada lahan kering dengan iklim kering. Tanaman kelapa ini menjadi sumber kehidupan masyarakat setempat karena hampir seluruh bagian tanamannya mulai dari ujung akar sampai pucuk daun dapat dimanfaatkan oleh manusia dan tentunya bermanfaat sebagai penghasil minyak nabati.

Untuk meningkatkan produktivitasnya sebagai tanaman perkebunan yang potensial,  Balai Besar Pelatihan Pertanian Ketindan Malang bekerja sama dengan Dinas Pertanian Kabupaten Sikka akan Pendidikan dan Pelatihan Teknis Tematik Komoditas Kelapa yang  diikuti 30 petani kelapa yang  akan menerima bantuan benih kelapa varietas Dalam serta petugas pendamping di lapangan yang akan mengawal bantuan benih kelapa varietas Dalam.  Menggunakan metode Focus Disscusing Group  (FGD) dan berdasarkan hasil skala prioritas masalah yang teridentifikasi menunjukkan tingkat serangan hama dan penyakit  kumbang Oryctes rhinoceros dan Brontispa longissima merupakan hama dominan yang menyerang tanaman kelapa varietas Dalam di Desa Tilang Kecamatan Nita Kabupaten Sikka NTT.  

Kumbang hitam atau juga disebut kumbang nyiur (Oryctes rhinoceros) memiliki ukuran 20-40 mm,  berwarna hitam dengan bentuk cula pada kepala. Kumbang Oryctes merusak  tanaman yang berumur 1-2 tahun. Serangan kumbang ini menyebabkan lubang pada pangkal batang yang dapat menimbulkan kematian titik tumbuh atau terpuntirnya pelepah daun yang dirusak. Pada tanaman dewasa terjadi lubang pada pelepah termuda yang belum terbuka dan ciri khas yang ditimbulkan yaitu janur seperti digunting berbentuk segi tiga atau guntingan geometrik  berbentuk V.

Michael Christopus dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kabupaten Sikka menekankan pentingnya sanitasi kebun terhadap sisa-sisa tebangan batang kelapa untuk mengendalikan hama kumbang hitam.   Selain itu, dapat juga digunakan bahan  Feromonas yang dimasukkan dalam ember  plastik bertutup dan pada bagian tutup ember dilubangi sebanyak 5 buah sebagai  jalan masuknya kumbang Oryctes. Kemudian gantungkan feromonas pada ember besar yang berpenutup dan dipasang pada tiang bambu setinggi 2,5 m. Selanjutnya tempatkan tiang beserta embernya ditengah areal tanaman pada setiap luasan 2 ha.  Feromonas berbau seperti serangga betina sehingga akan menarik serangga jantan pada malam hari dan penggunaan feromonas ini sangat efektif untuk mengendalikan hama kumbang  Orycte. 

Hama B. longissima juga menjadi hama dominan yang menyerang tanaman kelapa varietas Dalam. Hama ini menyerang pucuk daun terutama daun yang belum terbuka sehingga fotosintesis tidak terjadi mengakibatkan daun menjadi kering, bunga betina tidak tumbuh dan air kelapa yang dihasilkan tidak enak.  Untuk mengendalikannya, petani kelapa varietas Dalam kabupaten Sikka membuat alat kendali sederhana menggunakan musuh alami yaitu parasit Tetrastichus brontispa yang potensial membunuh 10% larva instar akhir dan 60-90% pupa. Parasit Tetrastichus brontispa dimasukkan dalam alat yang terbuat dari bambu dan pada bagian ujungnya ditutup dengan kain kemudian diikat dengan karet gelang. 

Untuk memperdalam identifikasi hama dan cara pengendaliannya peserta pada hari kedua peserta melakukan praktek lapangan di Gapoktan Lea Puli Desa Bloro Kecamatan Nita Kabupaten Sikka. Desa Bloro merupakan desa penghasil Kelapa Varietas dalam dengan produksi daging basah sebesar 62.7 kg/pohon/tahun dan kopra sebesar 31.38 kg/pohon/tahun, jumlah buah 122.58 buah/pohon/tahun. Fasilitator menekankan kegiatan utama pengendalian hama terpadu sangat penting dilaksanakan. Perlunya sanitasi lingkungan dimana rumput-rumput yang tumbuh disekitar pohon atau kebun harus dibersihkan, begitu pula tumpukan jerami dan tumpukan pupuk kandang harus juga dibersihkan. Hal inidisebabkan karena tempat inilah yang banyak digunakan sebagai sarang bagi kumbang Oryctes untuk meletakkan telurnya dan berkembang biak disana hingga dewasa.  

Harapannya dengan adanya kegiatan DIKLAT ini para peserta dapat belajar secara nyata dengan kasus riil di lapangan beserta solusinya, disertai bantuan benih unggul kelapa varietas Dalam dari  Kementerian Pertanian diikuti penerapan pengendalian hama penyakit terpadu maka produktivitas kelapa varietas Dalam sebagai salah satu penghasil bahan baku industri   dapat ditingkatkan menjadi > 1,5 ton kopra/ha/tahun. SY/YNI