Petani dan Importir Tanam Bawang Putih Bersama di Lahan 30 Hektar

aa | Rabu, 29 November 2017 , 19:13:00 WIB

Swadayaonline.com - Direktur Jenderal (Dirjen) Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan), Spudnik Sujono, membuka penanaman serentak bawang putih di Kabupaten Malang, Jawa Timur, Rabu (29/11/2017). Penanaman dilakukan di lahan seluas 30 hektare.

"Acara ini menjadi istimewa, karena seluruhnya dilakukan oleh pelaku usaha atau importir yang selama ini nyaris tidak pernah menanam bawang putih," ujarnya diwakili Kasubdit Bawang Merah dan Sayuran Umbi Ditjen Hortikultura, Mardiyah Hayati, sela acara di Desa Bendosari, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, Jatim.

Ada empat importir berpartisipasi pada kegiatan itu. Yakni, PT Tunas Sumber Rezeki, PT Aman Buana Putra, PT Haniori, dan PT Niaga Tama. Mereka bersinergi dengan lima kelompok petani (poktan) di lima desa pada dua kecamatan, Pujon dan Poncokusumo.

Dia meyakini, penanaman serentak tersebut dilakukan tak sekadar untuk menggugurkan kewajiban tanam, sebagaimana dipersyaratkan dalam rekomendasi impor produk hortikultura (RIPH). Kewajiban tanam 5 persen diatur dalam Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 16 Tahun 2017.

"Namun, saya yakin dan percaya, bahwa apa yang dilakukan oleh teman-teman pelaku usaha hari ini, adalah wujud ekspresi dari komitmen kita semua untuk membangkitkan kembali kejayaan bawang putih nasional," ucap mantan Sekretaris Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementan itu.

Dia menambahkan, regulasi tersebut dibuat semata-mata untuk mempercepat swasembada bawang putih pada 2019. Target tersebut sesuai visi Lumbung Pangan Dunia 2045 yang dicanangkan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman.

Karenanya, melalui momentum tersebut turut diharapkan menimbulkan efek berantai bagi pelaku usaha atau importir lainnya. Sehingga, importir lain terdorong segera merealisasikan kewajiban tanamnya.

"Dengan komitmen kuat dan sinergi dari seluruh pihak, saya sangat optimis, bangsa ini mampu bangkit membalikkan keadaan. Dari negara pengimpor terbesar bawang putih dunia, menjadi salah satu negara produsen bawang putih terbesar dunia," kata Mardiyah.

Bupati Malang, Rendra Kresna, pada kesempatan sama juga menganggap kegiatan ini merupakan momentum penting. Soalnya, sejak 1990-an bawang putih sudah tak dibudidayakan lagi secara masif.

Untuk itu, Bupati diwakili Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Malang, Nasri Abdul Walid, menyampaikan terima kasihnya kepada importir. "Jangan segan-segan tambah kuota, kami akan siapkan lahan," katanya.

Sedangkan kepada para petani, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang meminta mereka memanfaatkan sebaik-baiknya kegiatan tersebut. "Mudah-mudahan, nanti panen sesuai yang kita harapkan," ucapnya.

Untuk menunjang budidaya bawang putih, Pemkab Malang bakal segera membagi-bagikan sarana produksi (saprodi), "Baik pompa, olah tanah, tangani OPT (organisme pengganggu tanaman)," bebernya.

Sementara itu, Direktur Pelaksana PT Aman Buana Putra (ABP), Aman Buana Putra, menyatakan kewajiban tanam 5 persen tersebut tak memberatkan importir. Justru, dia menganggap sebagai pengalaman berharga.

"Kita selalu mendukung program pemerintah, kan untuk swasembada bawang putih," katanya, terpisah. Salah satu dukungan lain PT ABP terhadap program pemerintah dalam pertanian ialah mengekspor bawang merah.

Menurut Aman, tak ada hambatan dalam proses menjalankan kewajiban tanam tersebut sejak awal. Sebab, koordinasi dengan dinas terkait di daerah berjalan lancar. "Hari ini kita tanam berjalan dengan lancar," imbuhnya.

Dirinya berharap, produktivitas bawang merah yang dihasilkan sesuai target, mencapai 6 ton per hektare. PT ABP pun berencana kembali mengadakan tanam bawang putih di Malang dan Lombok Timur pada 2018 mendatang.

Kegembiraan atas tanam serentak tersebut turut dirasakan petani. Ini, sebagaimana diutarakan Zulfan dari poktan di Desa Purworejo, Ngantang, Malang.

Karenanya, dia meminta program wajib tanam 5 persen berdasarkan RIPH tak berhenti di Pujon. "Mudah-mudahan 2018 nanti bisa ke Ngantang. Di Ngantan, tahun 90 rata-rata petani bawang putih," harapnya.

Meski demikian, Zulfan berharap pemerintah dan swasta turut membantu mengedukasi petani soal cara tanam bawang putih, agar hasilnya nanti sesuai harapan. Apalagi, banyak petani di Ngantang yang kini beralih membudidayakan bawang merah dan komoditas lain.

"Kami juga minta jangan cuma untuk tanam saja. Tapi, pascapanen, pemasarannya, sehingga kami enggak rugi," tutup Zulfan. SY/HMS