Siap Ulangi Surplus, Parimou Butuh Alsintan

aa | Sabtu, 13 Januari 2018 , 05:16:00 WIB

Swadayaonline.com - Panen padi tiada henti di Parimou sebulan belakangan ini membuat kabupaten di Sulawesi Tengah itu surplus beras. Pedagang beras dari daerah tetangga pun banyak berdatangan memborong hasil panen.  "Mereka rebutan membeli sehingga harga ikut terkerek," kata Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Kabupaten Parimou Nelson Metubun,  SP. 

Menurut Nelson, Parimou memang ibarat Pantura di Pulau Jawa yang dikenal sebagai lumbung pangan sehingga menjadi pusat perhatian banyak pihak dari swasta hingga pemerintah pusat. "Sukses ini tentu membawa konsekwensi, kami diminta mempertahankan hasil tahun lalu bahkan melampaui," kata Nelson. 

Sejatinya Nelson siap mengulangi sukses surplus beras setelah kendala yang masih dialami petani bisa diatasi. "Panen berlimpah membuat lokasi pengeringan terbatas, kami butuh mesin pengering bila target produksi kami ditambah," kata Nelson. 

Menurut Nelson, banyak petani yang tersebar di empat desa yakni Desa Kotaraya Timur, Kotaraya Tenggara, Kotaraya Selatan, dan Ogotion khawatir turun hujan sebelum padi yang dijemur siap digiling. "Bila lembap, kualitas menurun," kata Nelson. 

Menurut kepala Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, Prof. Dr. Dedi Nursyamsi, M.Agr, Parimou beruntung telah mendapat combine harvester hampir di setiap kecamatan tahun lalu sehingga dapat panen cepat.  Namun, bila mereka diminta menggenjot tanam kembali maka dibutuhkan mesin tanam yang juga cepat. "Mereka butuh aplikator jarwo seeder," kata Dedi. 

Menurut Dedi jarwo seeder tersebut dapat digunakan untuk tanam varietas Ciherang dan Mekongga yang merupakan varietas favorit petani Parimou.  

Kepala UPTD Kecamatan Mepanga I Nyoman Sujana,  SP, dengan aplikasi jarwo seeder diharapkan hasil panen dapat meningkat. "Saat ini dengan tabela saja produktivitas padi 6,5 ton/ha. Pasti dengan teknologi lebih baik lagi," kata Nyoman. Walaupun sebetulnya produksi tersebut termasuk tinggi karena di atas rata-rata nasional yang hanya 5,3 ton/ha.

Nyoman mengatakan salah satu kendala utama di Parimou adalah tenaga kerja terbatas dan upah mahal. Dengan demikian sistem pertanian mulai dari pengolahan tanah, tanam, pemeliharaan (penyiangan dan penyemprotan hama dan penyakit), panen, dan pasca panen memang memerlukan alat mesin pertanian (alsintan) berkualitas. 

Sayangnya, alsintan harganya mahal sehingga hanya beberapa petani yang punya. "Bantuan combine harvester sudah sangat membantu. Kini kebutuhan lainnya pengering panen dan alat tanam untuk musim berikutnya," kata Nyoman. SY/HMS