Petani Serang: Jangan Ganggu Bulan Madu Kami

aa | Sabtu, 13 Januari 2018 , 18:39:00 WIB

Swadayaonline.com - Petani di Serang menolak keras anggapan petani tidak menikmati harga tinggi kala panen raya kali ini. Sejak Desember lalu hingga Januari 2018 mereka menikmati harga Rp5.000-Rp5.500 GKP per kg. "Tidak benar hanya pedagang yang untung, kami juga senang harga padi naik. Bila pemerintah impor, harga bisa anjlok dan kami merana," kata anggota poktan Tani Harapan, Arifin, saat panen siang tadi (13/1/18) di Serang. 

Menurut  Arifin rencana pemerintah untuk stabilkan harga beras melalui impor ibarat mengganggu petani yang tengah bulan madu dengan Nyai Pohaci, dewi padi di masyarakat Banten dan Jawa Barat. 
"Harga beras bakal murah, padahal harga pupuk dan pestisida tetap mahal. Ini membunuh kami," kata Arifin. 

Keresahan Arifin juga dirasakan petani lain di Kabupaten Serang yang  luas sawahnya 8.500 ha. Sejak Desember lalu Kabupaten Serang tiada henti-hentinya panen. Hari ini giliran Desa Ciwadan, Kecamatan Ciruas yang tengah memanen padi seluas 25 ha dari total sawah 2.346 ha di kecamatan tersebut. Mereka memanen varietas Ciherang dan Mekongga karena hasilnya tinggi dan harganya bagus. 

Menurut Kepala BPTP Banten, Ir Amir Pohan MSc, petani Serang patut diapresiasi pemerintah karena hasil panen padi 6-7 ton GKG per hektar. 

Apresiasi tersebut dengan cara pemerintah pusat harus menolak impor beras. "Kita di lapangan enak mengajak petani adopsi teknologi bila harga beras bagus," kata Amir. Menurut Amir produktivitas padi di Serang  bisa ditingkatkan lagi menjadi di atas 10 ton per ha. 

Hasil demplot Badan Litbang Pertanian yang dilaksanakan tahun lalu menunjukkan teknologi Jarwo Super dapat menghasilkan padi 14 ton/ha GKP. 

Teknologi jarwo super berupa penanaman varietas unggul seperti  Inpari 32, cara tanam jajar legowo 1:2, pemupukan berimbang, pupuk hayati, biopestisida, dan alsintan jarwo transplanter serta combine harvester.  

Pada panen di Ciruas kali tampak hadir Kepala Puslitbangnak, Kepala BPTP Balitbangtan Banten, dan sejumlah stafnya. Hadir pula Kepala Desa Ciwadan, Ketua kelompok tani, para petani, dan petani penebas. "Mereka hadir meskipun hari libur sebagai bentuk apresiasi pad petani," kata kepala Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, Prof. Dr. Dedi Nursyamsi, MSc. SY/HMS