Bahaya Tikus Mengancam, Kostratani BPP Porong Gencar Lakukan Gerdal Tikus

udin abay | Kamis, 25 Februari 2021 , 22:21:00 WIB

Swadayaonline.com - Musim hujan yang masih berlangsung, merendam kawasan padi di wilayah Kecamatan Porong - Sidoarjo. Akibatnya tikus kekurangan sumber makanan dan mengancam pertumbuhan tanaman padi. Guna mengendalikan populasi tikus di awal musim tanam ini, Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Sidoarjo melalui Kostratani BPP Porong, gencar melakukan kegiatan pengendalian tikus di wilayah kerjanya. 

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo menegaskan kepada seluruh insan pertanian bahwa di tengah pandemi Covid-19, petani dan penyuluh harus tetap bersinergi menyediakan kebutuhan pangan sehingga tidak terjadi krisis pangan.

Akibat musim hujan yang masih berlangsung di wilayah Kecamatan Porong Kabupaten Sidoarjo menyebabkan lahan tanaman padi terendam banjir. Puluhan hektar sawah petani dilaporkan masih belum surut mengingat curah hujan yang  tinggi dan terjadi hampir tiap hari. Selain ancaman banjir tersebut bahaya tikus juga mengancam petani. Wajar petani resah karena tikus merupakan hama penting tanaman padi yang serangannya lebih dari 17% dari total luas areal padi tiap tahunnya. Penyebabnya adalah pengendalian hama tikus yang dilakukan oleh petani selalu terlambat, karena biasanya mereka mengendalikan setelah terjadi serangan dan kurangnya monitoring/pengamatan oleh petani.

Kostratani BPP Porong mengajak petani untuk mengantisipasi adanya ancaman serangan tikus dengan melakukan gerakan pengendalian (gerdal) secara serempak. Hal ini dilakukan karena hasil pengamatan menunjukkan bahwa telah terjadi gejala serangan di beberapa wilayah di Kecamatan Porong. 

Widi Harsono, penyuluh pertanian setempat menjelaskan, bahaya tikus bagi tanaman sangat merugikan petani. “Gerakan pengendalian tikus ini bertujuan untuk mengurangi populasi tikus khususnya di wilayah yang menjadi endemis tikus,”ujar Widi.

Lebih lanjut ia juga menjelaskan bahwa setidaknya ada 9 teknis pengendalian tikus yang dapat ditempuh diantaranya tanam dan panen serempak, sanitasi lahan/habitat tikus meliputi tanggul irigasi, jalan sawah, batas perkampungan, pematang, parit, saluran irigasi, dan lain sebagainya yang dapat digunakan bersembunyi tikus, gerakan bersama atau yang lebih dikenal dengan gropyokan massal, fumigasi/pengemposan di sarang-sarang tikus, pemasangan Trap Barrier System (TBS) yaitu dengan menggunakan tanaman perangkap terutama di daerah endemik tikus dengan pola tanam serempak, pemasangan Linier Trap Barrier System (LTBS) berupa bentangan pagar plastik/terpal, memanfaatan musuh alami seperti burung hantu, burung elang, kucing, anjing, ular tikus, dan lain-lain, menggunakan rodentisida sesuai anjuran dilakukan hanya apabila populasi tikus sangat tinggi terutama pada saat bera atau awal tanam dan cara pengendalian lokal lainnya yaitu dengan memanfaatkan cara pengendalian tikus yang biasa digunakan petani setempat, seperti penggenangan sarang tikus, penjaringan, pemerangkapan, bunyi-bunyian, dan cara-cara lainnya.

“Oleh karena itu monitoring keberadaan dan aktivitas tikus sangat penting diketahui sejak dini agar upaya pengendalian dapat berhasil,” imbuh Widi.

Hal ini sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi, bahwa Kostratani harus mampu menjalankan fungsinya sebagai sarana pembelajaran dan pendampingan bagi petani agar mampu meningkatkan produksi dan mendukung  penyediaan pangan bagi masyarakat Indonesia. SY/NING/YNI