Handil, Tabar, dan Polder: Tiga Jurus Pengelolaan Air di Lahan Rawa

aa | Kamis, 25 Oktober 2018 , 21:32:00 WIB

Swadayaonline.com - Sejak dulu para petani di lahan rawa sudah mengetahui bahwa kunci keberhasilan bercocok tanam, khususnya padi di lahan rawa sangat ditentukan oleh kondisi air. Pada saat bulan purnama air pasang besar, demikian juga saat bulan mati terjadi pasang tinggi. Namun pada saat bulan sabit atau antara hari ke 7 menuju ke 14 atau hari ke 21 menuju 29 terjadi penurunan air atau surut.

Pengalaman dari generasi ke generasi dengan pengamatan yang berulang-ulang akhirnya menghasilkan kearifan lokal (indegenous knowledge) untuk dapat memanfaatkan air untuk bercocok tanam, khusus untuk di lahan rawa ungkap Hendri Sosiawan (Kepala Balai Penelitian Lahan Rawa, Balitbang Kementan). ‘Ada cara-cara praktis untuk menyiasati keadaan tata air di lahan rawa yaitu dengan membuat saluran yang disebut handil’, jelasnya lagi.  Handil adalah saluran yang dibuat menjorok masuk dari badan sungai sejauh 1-2 km dengan lebar antar 1-2 m dan kedalaman 0,5-1,0 m sehingga pada saat pasang, air bisa masuk melalui handil dan saat surut, air bisa keluar. Model ini juga sekaligus membuang hasil cucian (leached) ke sungai. Ratusan bahkan ribuan mungkin handil yang dibangun oleh masyarakat sepanjang sungai-sungai besar seperti Barito, Mahakam, Kapuas, Kahayan, dan lainnya.

“Pengalaman selama bertahun-tahun juga, saat petani membutuhkan air yang cukup besar dan memerlukan durasi yang relatif lama, maka muncul cara-cara praktis dan sederhana untuk menahan air yang mengalir di saluran dengan menyusun kayu gelam atau tanah hingga berupa dam atau tameng untuk menahan air, sehingga bisa tertampung atau tersimpan di saluran sehingga tidak hilang menjadi air limpasan (run off). Cara-cara ini disebut dengan tabat”, ungkap Hendri menambahkan. 

Tabat adalah dam limpas (dam overflow) yang terbuat dari tanah, kayu atau sejenisnya yang tingginya disesuaikan dengan keinginan tinggi muka iar yang ingin diharapkan. Dari sinilah munculnya istilah pintu air, flapgates, stoplog atau sekat.

Schophyus, seorang ahli pengairan berkebangsaan Belanda bersama-sama dengan H. Idak, seorang Manteri Tani yang bekerja sebagai aparat daerah di Kalimantan pada masa pemerintah Belanda tahun 1950an merancang suatu model yang menggabungkan antara sistem handil, tabat, dan tanggul keliling yang kemudian dikenal dengan sistem polder. Polder adalah bangunan air berupa tanggul keliling yang dilengkapi dengan saluran utama masuk, keluar, dan saluran pembagi serta dilengkapi dengan pompa besar untuk memasukan air pada saat kekeringan dan mengeluarkan pada saat kelebihan. 
Implementasi sistem polder ini pernah dilakukan di rawa lebak Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan yang dikenal dengan Polder Alabio dengan luasan 6.000 hektar, tetapi belum berhasil dengan baik. 

Oleh karenyanya saat ini dengan penyempurnaan sistem polder dan mengoptimalkan pertanian di lahan rawa telah dikembangkan sistem polder mini yang pada prinsipnya menerapkan apa yang disebut handil, tabat atau tanggul dan aliran satu arah, jelas Herman Subagio Peneliti Balittra. 
Kalau yang dikembangkan pada Polder Alabio mencapai luas 6.000 hektar, maka pada sistem polder mini ini hanya mencapai luas antara 100-300 hektar. Dalam sistem polder mini ini ada tiga jurus pengelolaan air yang diaplikasikan yaitu (1) adanya tanggul keliling yang kokoh; (2) adanya jaringan tata air berupa adanya saluran masuk, saluran keluar, dan saluran pembagi, dan (3) tersedianya pompa besar baik pada pintu masuk maupun pintu keluar untuk sekaligus mengatur tinggi muka air dengan memompa air masuk apabila kekurangan air dan memompa air keluar dari dalam apabila kelebihan air.

Sistem polder mini ini merupakan model pengelolaan air di lahan rawa yang diterapkan pada lokasi Hari Pangan Sedunia (HPS) di Desa Jejangkit Muara, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan sebagai duplikasi dari yang dikembangkan di Ogan Ilir, Sumatera Selatan. 

Tiga jurus pengelolaan air diimplimentasikan pada sistem polder mini Jejangkit Muara yang unit pengembangannya seluas 240 ha dengan dibangunnya tanggul keliling, saluran sekunder dan tersier masuk dan keluar, dan tersedianya pompa, yaitu pompa masuk dan pompa keluar. 

Dengan dibangunnya polder mini ini, maka dapat ditingkatkan indeks pertanaman dari IP 100 menjadi IP 180 dan/atau IP 200, ditingkatkan hasil panen karena meningkatnya efisiensi pencucian zat-zat beracun (leaching) dan meningkatkan pH tanah dan ketersediaan hara tanaman, sehingga hasil padi juga meningkat. 

Melalui sistem polder mini, hasil pertanaman padi varietas Inpara 2,3, 8 dan 9 menunjukkan pertumbuhan yang optimal, tampak menguning dengan bulir-bulirnya yang panjang dan berisi, ungkapnya. SY/HMSL