Kubis Indonesia Menjangkau Dunia

aa | Selasa, 27 November 2018 , 12:13:00 WIB

Swadayaonline.com - Indonesia memiliki beragam komoditas hortikultura. Dari ratusan jenis komoditas tersebut, hanya puluhan yang memiliki nilai ekonomis tinggi, salah satunya kubis.

Meski memiliki potensi ekonomi yang luar biasa,  kubis sering dipandang sebelah mata. Kubis sering dikonotasikan bernilai gizi rendah.  Beberapa orang berpantang memakannya, dan kadang dituduh sebagai penyebab asam lambung. Kubis sudah sangat akrab dengan ibu-ibu rumah tangga karena masakan seperti sop, gado-gado, soto, pecel lele, somai dan sebagainya menggunakan kubis. 

Kubis biasa ditanam di daerah dataran tinggi. Namun saat ini juga sudah berkembang kubis di dataran menengah – rendah. Ada dua jenis kubis yang biasa diproduksi oleh petani yaitu kubis daun dan bunga kol atau brokoli.

Menurut catatan BPS,  rata-rata ekspor kubis Indonesia per tahun dalam kurun waktu 2013 -2017 mencapai 4.500 ton per tahun.  Pada periode Januari - Agustus 2018 mencapai 24,6 ribu ton, naik dari periode yang sama tahun 2017 sebanyak 22,1 ribu ton. Kubis bahkan mencatatkan diri sebagai komoditas sayuran yang paling banyak diekspor dibanding jenis sayuran lain seperti jagung manis, bawang merah, selada dan sebagainya.

"Tak tanggung - tanggung, kubis Indonesia mampu menembus pasar luar negeri seperti Jepang, Malaysia, Taiwan, Singapura hingga Uni Emirat Arab", ujar Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Ditjen Hortikultura, Prihasto Setyanto, saat dikonfirmasi di Jakarta (27/11). 

Produksi kubis rata-rata per tahun selama 5 tahun terakhir mencapai 1.463.126 ton. Pada tahun2017 lalu mencapai 1.442.624 ton setahun dan menjadikan Indonesia sebagai salah satu produsen terbesar di dunia. "Kelebihan kubis Indonesia, selain harganya relatif murah juga mampu dipasok secara kontinyu dari sentra-sentra utama seperti Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah, JawaTimur dan daerah penghasil kubis lainnya", imbuh Prihasto.

Kementerian Pertanian akan fokus pada perbaikan kualitas kubis Indonesia melalui gerakan budidaya ramah lingkungan.  "Selama ini masyarakat baik dalam maupun luar negeri, masih banyak yang kuatir mengkonsumsi kubis asal Indonesia karena isu residu pestisida. Kami terus himbau petani mempraktikkan cara budidaya yang lebih ramah lingkungan dengan menekan penggunaan pestisida. Selain isu pestisida, kami akan dorong perbaikan sistem penanaman Kubis di lahan berlereng agar memperhatikan prinsip konservasi ", terang pria yang akrab dipanggil Anton tersebut.

Nandang, Ketua Gapoktan Hataki Kecamatan Pasir Jambu Kabupaten Bandung  mengaku senang menanam kubis karena selain mudah, hasilnya pun lumayan. "Biaya produksi per tanaman hanya sekitar Rp 2.000 per kubis. Sementara hasilnya bisa 3 - 5 kilo per tanaman. Kalau harga per kilonya Rp 3.000 - Rp 4.000 per kilo, hasilnya sudah sangat lumayan", kata Nandang antusias. Produksi kubis miliknya bisa mencapai 40 ton per hektare. Dengan umur tanaman 90 hari, satu hari dia biasa menanam 2 kali. 

Dengan tingginya potensi produksi ini kubis tidak bisa lagi dipandang sebelah mata. Konsistensi untuk berproduksi diiringi dengan kemampuan mengejar pasar eskpor  akan menjadikan sayuran daun ini menjadi primadona di dalam maupun luar negeri. SY/HMSH