Teknologi Nuklir (Iradiasi) Aman Bagi Pangan

aa | Rabu, 13 Februari 2019 , 17:34:00 WIB

Swadayaonline.com - “Masyarakat Indonesia jika mendengar kata nuklir biasanya langsung berasumsi pada bom, padahal radiasi pada nuklir bersumber dari sinar X dan gelombang Gamma yang sebenarnya masyarakat sudah familiar terutama sinar X karena telah dimanfaatkan dalam sektor kesehatan,” papar Widi, pengurus APRONUKI dalam Seminar Berkala Balai Besar Litbang Pascapanen, 11 Februari 2019 di Bogor.

Kandungan perut bumi Indonesia tak hanya kaya dengan batu bara, minyak, gas, hingga emas, ada juga kandungan thorium dan uranium. Thorium merupakan bahan bakar reaktor nuklir yang terdapat di alam dengan kelimpahan lebih besar dibanding uranium.

Di negeri ini, ketersediaan thorium mencapai 130 ribu ton, hampir dua kali lipat dibandingkan stok uranium dengan 74 ribu ton. Pemanfaatan nuklir diberbagai bidang memang sudah dilakukan Batan seperti sektor energi, industri, kesehatan, lingkungan bahkan pertanian. “Riset yang dilakukan Batan dalam sektor pertanian sampai saat ini hanya berkutat pada komoditas padi saja, padahal sektor pertanian tidak hanya itu” Ujar Besar Winarto, Ketua Asosiasi Profesi Nuklir Indonesia (APRONUKI).

Ia menambahkan “Sudah saatnya Batan bersinergi dengan lembaga atau institusi teknis untuk menciptakan riset yang lebih siap untuk level industri global. Jadi riset apa yang ada di Batan dan bisa dimanfaatkan oleh Balitbangtan ataupun sebaliknya untuk ketahanan pangan di Indonesia. Iradiasi pada pangan misalnya”. Iradiasi pangan adalah metode penyinaran terhadap pangan baik dengan menggunakan zat radioaktif maupun akselerator untuk mencegah terjadinya pembusukan dan kerusakan pangan serta membebaskan dari jasad renik patogen.

Iradiasi pangan merupakan proses yang aman dan telah disetujui oleh lebih kurang 50 negara di dunia dan telah diterapkan secara komersial selama puluhan tahun di USA, Jepang dan beberapa negara Eropa. Codex Alimentarius Commission telah melakukan berbagai kajian dan menyatakan bahwa iradiasi pangan dengan dosis rata-rata sampai dengan 10 kGy tidak menimbulkan bahaya toksisitas dan proses iradiasi tidak menggunakan panas sehingga kehilangan zat gizi terjadi dalam jumlah minimal dan lebih kecil dari pada proses pengawetan lain seperti pengalengan, pengeringan dan pasteurisasi. APRONUKI berkeinginan menjalin kerjasama dengan Kementerian Pertanian khusunya Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian dalam hal pemanfaatan energi nuklir (Iradiasi) untuk penanganan pascapanen komoditas pertanian.

Sementara itu, BB Pascapanen mulai tahun 2018 dan dilanjutkan pada tahun 2019 telah melakukan kerjasama penelitian dgn BATAN terkait penggunaan irradiasi sinar gamma untuk menekan OPT pada buah manggis,nanas dan mangga. "Perlakuan irradiasi tersebut selanjutnya akan dikombinasikan dengan teknologi pascapanen lainnya, seperti HWT dan kemasan aktif," jelas Dr Siti Mariana Widayanti salah seorang peneliti BB Pascapanen. Kombinasi perlakuan tersebut diharapkan akan memberikan hasil yg lebih baik dibandingkan jika perlakuan sendiri-sendiri. SY/HMSL